Selasa, 19 Juni 2012

Malahayati, Perempuan Yang Agung

. Selasa, 19 Juni 2012

Malahayati, Perempuan Yang Agung tidak banyak yang mengenalnya. Seorang pahlawan perempuan yang hampir hilang dari sejarah bangsa Indonesia, tidak ada lagu pujian, jarang disebut namanya dan tidak pernah diungkit sejarahnya. Sudah saatnya kita mengenal dan mengenang salah satu perempuan hebat yang bertarung menyabung raga dan nyawa demi bangsa ini.



Laksamana perempuan pertama di dunia. Petarung garis depan. Pemimpin laskar Inong Balee yang bermakna Laskar para Janda pahlawan. Beranggotakan 2000 orang prajurit, semuanya perempuan, yang disegani musuh dan kawan. Dialah Laksamana Malahayati.

Atau pernah mendengar nama kapal perang KRI Malahayati ? Banyak orang yang tidak tahu, siapakah yang memiliki nama besar dan terhormat itu sehingga diabadikan dalam nama sebuah kapal perang. Beliau adalah seorang perempuan yang agung ( grande dame ), yang memimpin sebuah laskar pejuang yang terdiri dari para pejuang dan laskar perempuan dan kebanyakan adalah janda yang ditinggal wafat suami mereka dalam perjuangan melawan penjajah. Malahayati juga seorang janda karena suami Malahayati juga gugur saat berperang melawan Portugis sewaktu akan menguasai selat Malaka, yakni pada pertempuran laut Teluk Haru.

Malahayati, nama aslinya adalah Keumala Hayati putri Laksamana Mahmud Syah, hidup di masa Kerajaan ( Kesultanan ) Atjeh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589 - 1604 M. Malahayati pada awalnya adalah dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Meunasah / pesantren, beliau meneruskan pendidikannya ke Akademi Militer Kerajaan “MA’HAD BAITUL MAQDIS”, akademi militer yang dibangun dengan dukungan Sultan Selim II dari Turki Utsmaniyah.

Akademi ini didukung oleh 100 dosen angkatan laut yang sengaja didatangkan dari kerajaan Turki tersebut. Disini pula ia bertemu jodohnya sesama kadet yang akhirnya menjadi Laksamana, namun sampai kini nama suaminya belum dapat diketahui dengan pasti. Karir militernya menanjak setelah kesuksesannya “menghajar” kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam.

Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599, sedang adiknya Frederich de Houtman tertawan dan dipenjarakan selama kurang lebih satu tahun. Frederich inilah orang Eropa pertama yang menterjemahkan Bijbel kedalam bahasa Melayu. Akhirnya beliau diberi anugerah gelar Laksamana ( Admiral ). Dan beliaulah Laksamana Perempuan Pertama Di dunia, dimana pada saat itu kaum perempuan dibelahan bumi yang lain termasuk di Eropa dalam keadaan jumud dan hanya sebagai “konco wingking”.

Maka kehebatan kaum perempuan Melayu - Nusantara ini kemudian menginspirasi perubahan peran kaum perempuan di seluruh dunia. Beliau juga tercatat dalam sejarah sukses menghalau Portugis dan Belanda masuk ke Aceh, sesuai catatan seorang wanita Belanda, Marie Van Zuchtelen, dalam bukunya berjudul “Vrouwlijke Admiral Malahayati” ( Malahayati - Sang Admiral Wanita ).

Selain armada Belanda, Laksamana Malahayati juga berhasil menggebuk armada Portugis. Reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan membuat Inggris yang belakangan masuk ke wilayah ini, memilih untuk menempuh jalan damai. Surat baik - baik dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh, membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten. Keberhasilan ini membuat James Lancaster dianugrahi gelar bangsawan sepulangnya ia ke Inggris.

Ketika Negara - negara maju berkoar masalah kesetaraan gender terutama terhadap negara berkembang dewasa ini, wilayah nusantara telah lama mempunyai pahlawan gender yang luar biasa. Laksamana perang wanita pertama di dunia.

Selain itu, beliau juga mendirikan sebuah benteng yang dikenal dengan Benteng Inong Balee di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng tersebut menghadap ke barat, ke arah Selat Malaka. Benteng ini merupakan benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan janda - janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pelatihan militer dan penempatan logistik keperluan perang.

Makam Laksamana Malahayati

Setelah wafat dalam pertempuran laut Teluk Krueng Raya Malahayati dimakamkan tidak jauh dari Benteng Inong Balee, sekitar 3 Km dari benteng berada diatas bukit. Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu suci. Beberapa kompleks makam di daerah lain yang terdapat di puncak bukit antara lain: Kompleks Makam Raja - raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, makam Sunan Giri di Giri Gresik, Sunan Muria di Kudus, dan Gunung Jati di Cirebon.

Nama Malahayati saat ini terserak di mana - mana, sebagai nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi dan tentu saja, nama kapal perang. KRI Malahayati, satu dari tiga fregat berpeluru kendali MM-38 Exocet kelas Fatahillah. Bahkan lukisannya diabadikan di museum kapal selam surabaya. Walaupun demikian, entah mengapa tak banyak yang mengenal namanya. “Siapa sih Malahayati itu?” begitu sering kita dengar. Hanya ada jawaban, “Oh, dia itu Laksamana“.

Laksamana Malahayati Grande Dame ( perempuan yang agung ). Pahlawan emansipasi yang terlupakan. Source

Share this Article now on :
ARTIKEL YANG BERHUBUNGAN :


0 komentar:

:X ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar